Jogja Mulai Macet, Apa Solusinya?

Trans Jogja

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan beberapa orang dari Bandung dalam sebuah acara wisuda. Iya, saya diwisuda, tapi sayangnya dalam rangka acara lain, hehe. Beberapa dari mereka mengatakan Jogja saat ini ternyata sangat macet dan ramai, jauh dari kondisi Jogja beberapa tahun lalu. Keluhan serupa sebenarnya sudah sangat sering saya dengar. Bahkan, Jogja disebut-sebut akan segera menyusul Jakarta dalam hal kemacetan. Akan tetapi, menurut saya, persoalan macet memang bukan cuma ada di Jogja. Di Indonesia atau lokasi manapun di belahan dunia lain juga mengalami hal yang sama. Mau bagaimana lagi? Pertumbuhan penduduk tidak mungkin berhenti. Saat ini, kita hanya bisa memikirkan solusinya.

Transportasi massal sudah menjadi wacana solutif bagi kemacetan di manapun. Prinsipnya, transportasi umum yang nyaman (dari semua sisi) akan membuat masyarakat malas membawa kendaraan pribadi yang menjadi penyebab macet nomor satu. Di Jogja sendiri, transportasi umum itu bernama Trans Jogja. Trans Jogja mulai beroperasi pada tahun 2008. Hingga tahun ini, jumlah armada mencapai 105 dari total yang direncanakan sebanyak 128 buah. Sebanyak 17 jalur yang direcanakan, namun saat ini baru mencapai 15 jalur. Jumlah halte permanen dan portable masing-masing adalah 113 dan 90 buah. Di website Dinas Perhubungan Provinsi DIY, kita bisa mengunduh peta rute Trans Jogja.

Meskipun pengadaannya bertujuan untuk mengurai kemacetan, nyatanya 71,5% koresponden dari penelitian tentang Trans Jogja menyatakan Trans Jogja belum berhasil mengatasi kemacetan (sumber). Selain itu, tingkat terisian penumpang (load factor) juga masih sangat rendah, yakni baru sebanyak 25%, padahal, idealnya adalah 70%. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan penelitian lebih lanjut terkait faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya minat masyarakat terhadap Trans Jogja. Dengan minat masyarakat yang rendah, otomatis Trans Jogja tidak akan bisa menjadi solusi kemacetan jangka panjang.

Pemerintah bisa memulainya dari penambahan jalur (terutama di daerah-daerah yang belum tersentuh transportasi umum sama sekali) serta penambahan jumlah armada dan pemanfaatan teknologi. Saat ini, pemerintah perlu mengintegrasikan transportasi massal dengan teknologi untuk mempermudah akses bagi masyarakat. Di Melbourne, contohnya, rute trem dapat dipantau langsung di aplikasi yang bisa dipasang di smartphone. Tentunya, hal ini akan sangat bermanfaat bagi pendatang baru maupun wisatawan. Terlebih, Jogja merupakan salah satu tujuan destinasi utama di Indonesia. Nantinya, bila Trans Jogja melayani ke banyak titik di seluruh penjuru Provinsi DIY, maka aplikasi ini akan sangat terasa manfaatnya.

Di dalam aplikasi ini, pemerintah bisa menyematkan beberapa fitur utama, antara lain semua jalur dari Trans Jogja, kapan armada selanjutnya akan datang pada jalur yang kita pilih, di mana halte terdekat, di mana posisi armada yang akan kita naiki, dan fitur-fitur lain yang mempermudah masyarakat. Dengan begitu, masyarakat akan bisa memantau langsung jam berapa bus tujuan akan datang dan memperkirakan kapan akan tiba di tempat tujuan. Tentunya, hal ini menarik, terutama bagi wisatawan yang ingin jalan-jalan naik Tranas Jogja. Saya rasa, di zaman serba canggih seperti saat ini, tidaklah sulit untuk membuat aplikasi semacam itu. Siapa tahu, Jogja menjadi kota pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi ini. Cap sebagai kota pelajar pun tidak lagi hanya soal jumlah pelajar, tapi kemampuan pelajarnya dalam memanfaatkan teknologi. Smart City it is!

Semoga ke depannya, entah Trans Jogja atau transportasi umum lain, ada yang bisa membawa saya dari lereng Merapi ke pantai di Gunung Kidul, who knows?

All the comments would be read, don't worry!

%d bloggers like this: